Sabtu, Januari 10, 2009
Sahabat Kedondong ke Gunung Bromo!
Pada suatu pagi...
(Kamis, 1 Januari 2009)
Qre datang ke kosku dan berkata, “Ayo siap-siap. Malam ini kita ke Bromo”
Dan begitulah jadinya.
Yeah, alumnus planologi (ilmu ttg perencanaan?) memang tidak perlu rencana untuk melakukan suatu hal. Karena kalo direncanakan ujung-ujungnya malah gak jadi. Ya toh?
Bahkan acara ke Bromo kali ini juga diikuti oleh Sahabat Kedondong yang lain. Ada Mel, Jak, dan Tom. Semuanya bersiap dadakan. Total jenderal, kami berlima berangkat jam 22:00 dari Malang dengan mobil carteran.
Kami sampai di kawasan parkir Bromo sekitar pukul 01.30 dini hari. Setelah acara foto-foto selamat datang dan beli-beli kupluk (tutup kepala), para Sahabat Kedondong mampir ke warung yang ada deket situ. Rencananya baru sekitar pukul 03:00 pagi nanti kami akan memulai perjalanan ke puncak Bromo-nya. Jadi ya, menghangatkan diri dulu laah...
Nah, daripada nganggur, mendingan kita tanya-tanya ke Sahabat Kedondong apa sih motivasinya ikutan naik ke Bromo kali ini?
1. Mel : “menikmati Mie Bromo yang kelezatannya tiada duanya di dunia ini!” (aslinya sih cuman mie instant biasa)

2. Jak: “Ana datang ke Jabaal Bromo ini untuk meningkatkan ilmu nuzum Ana....wesuesuesuesues...” (baca mantra)

3. Bud: “Menebarkan pesona, tentu saja....” (di gunung?????)

4. Tom: “Sebenarnya saya kemari untuk mencari penghasilan tambahan......”

Penghasilan tambahan? Maksudnya apa Tom???

5. Qre: “Kalo aku ke sini mau.......”

Mau apa???
OK, kelar menanyakan hal yang sia-sia ke Sahabat Kedondong, tidak terasa waktu sudah hampir pukul 03:00. Berarti, kami harus siap-siap naik ke puncak. Setelah acara pipis-pipis bayar Rp 2000, maka dimulailah perjalanan penuh tantangan ini....
Kondisi cuaca pada saat itu sangat tidak bersahabat. Udara sangat dingin dan kemungkinan akan turun salju. Karena kondisi sangat gelap, kami memutuskan untuk berjalan satu-per satu. Yang di belakang memegang tas/jaket/bokong kawan yang di depannya. Mirip kawanan gajah di Afrika sana...
Yang bikin be-te adalah...dini hari itu ternyata kami satu-satunya kelompok pejalan kaki! Kelompok-kelompok yang lain memilih memakai angkutan Hardtop/Jeep. Heiiiii!!!! Di mana jiwa petualang kalian????
Dan... ternyata salju benar-benar turun...


Udara jadi d i n g i n b a n g e t .
Baju hangat (seadanya) yang kami kenakan jadi basah. Dan parahnya lagi, di antara kami tidak ada yang benar-benar tahu jalan menuju Puncak Bromo.
Dengan kondisi gelap gulita dan dingin seperti saat itu, tidak ada pilihan lain bagi kami untuk berhenti dan menunggu kelompok lain.
Setelah beberapa menit menunggu, ternyata ada kelompok petualang lain yang datang. Tapi harapan tinggal harapan. Kelompok baru tadi ternyata wisatawan dari Jakarta yang tentu saja lebih tidak tahu lagi arah menuju puncak Bromo.... Pada saat-saat seperti ini, rasanya pengen balik ke Gramedia dan membeli PETA BROMO berapapun harganya...
Akhirnya diputuskan untuk menghentikan salah satu Hardtop dengan taruhan nyawa (menghadang di tengah jalan). Dan Pak Sopir pun menunjukkan arah yang harus kami tempuh. Perjalanan pun dilanjutkan. Ternyata sebenarnya jalan menuju puncak Bromo bisa ditempuh dengan mengikuti petunjuk batu-batu seukuran kepala yang disusun lurus menuju jalur ke puncak. Mungkin memang disusun untuk petunjuk arah bagi petualang gadungan seperti kami. Nah, ini tambahan ilmu yang tidak kami peroleh di bangku kuliah dulu.
Jadi pesan moralnya: Jika Anda tersesat, tidak perlu bertanya siapa-siapa. Ikutin aja BATU!
Akhirnya kami sampai di kaki tangga menuju puncak Bromo (pos 2 ?). Waktu itu mungkin sudah subuh. Yang jadi masalah adalah ternyata awan belerangnya cukup tebal, sehingga kami tidak langsung naik. Awan belerang membuat nafas kami sesak. Bau banget. 1000x bau kentutku (estimasi ngawur). Pasti batuk-batuk. Kami putuskan untuk menunggu terang, baru nanti didiskusikan lagi langkah selanjutnya.

fotonya gak fokus, soalnya yg moto kedinginan.
coba perhatikan juga awan belerang yang menutupi bromo
Hari semakin terang, tapi udara tetap dingin dan awan belerang tetap datang bertubi-tubi. Bersama kami sudah banyak wisatawan lain yang bertahan di bawah tangga untuk melihat situasi. Ada juga sih wisatawan yang tetap naik walaupun awan belerangnya tebal banget. Kayaknya mereka jenis manusia yang bernafasnya enggak pake paru-paru. Mungkin pake insang.
Kami pun memilih tempat istirahat di sebuah lekukan tanah yang terbentuk akibat erosi. Lumayan enggak terlalu dingin.
Kami lalu mengeluarkan logistik untuk sekedar mengisi perut dan menghangatkan badan.
Qre mengeluarkan kompor gas portable dan mulai memasak air.
Dan u know....kompor itu meledak!
Kejadian selanjutnya (terjadi hampir bersamaan):
Hahaha, boong ding. Aku cuman teriak aja. Enggak kuatlah aku mbopong Mel.
*ditinju Mel*
Memang, pada saat-saat genting, kita bisa tahu sifat asli dari teman-teman kita....
*menoleh ke Sahabat Kedondong*, hahaha........
Tapi yang aku salut (dan heran) adalah banyak wisatawan yang juga membawa anak-anak kecil. Dan mereka (termasuk anak-anak kecilnya) tidak menyerah dan mencoba bertahan dengan kondisi ini. Bahkan akhirnya mereka juga bisa mencapai puncak. Luar biasa...
Oia, yang aku lebih heran lagi, kenapa kuda-kuda yang ada di sana enggak ikutan batuk-batuk?
Hmm....misteri alam yg susah untuk dipecahkan ......
Semakin siang, tentu saja pemandangan jadi makin terang. Awan belerang pun sudah mulai menipis. Pasti aja karena sudah kebanyakan dihisap oleh wisatawan (?).
Akhirnya kami memutuskan untuk naik. Tapi sebelum itu, harus foto-foto dulu. Jak pun meminta tolong kepada salah seorang wisatawan lain:
Jak: “Mbak bisa minta tolong foto-in, nggak?”
Si Mbak: “Uh?”
Kami: “?”
Si Mbak: “Ooo...take a picture?”
Astaga....ternyata si Mbak orang Jepang. Dan jadilah kami difoto sama Mbak-mbak (manis) dari Jepang. Si Mbak yang turis asing malah kami suruh-suruh. Mudah-mudahan si Mbak enggak marah dan mengadu ke negaranya, terus negara Jepang tidak terima, terus dikirimlah tentara Jepang ke Indonesia, terus Indonesia dijajah lagi sama Jepang, terus selama 1,5 tahun kita semua menderita, terus kita proklamasi dan merdeka, terus kakekku ketemu nenekku, terus mereka jatuh cinta, terus lahirlah ayahku, terus ayahku bertemu ibuku, terus mereka menikah, terus lahir aku, terus aku kuliah di malang, terus aku ketemu sahabat kedondong, terus kami ke bromo, terus kami minta foto sama Mbak dari Jepang....lho? muter ae ternyata!
*Plak!!! Bangun!*
Nah, akhirnya kami pun menaiki tangga ke puncak Bromo dan sempat foto-foto sebentar di puncak.
Berujung sudah perjuangan melelahkan dan penuh marabahaya (lebay) menuju puncak Bromo.....
Puas menghisap udara pegunungan yangsejuk berbau belerang, akhirnya kami kembali ke kawasan Parkir.
Karena kaki Mel ngilu, dan harus dituntun untuk berjalan, kami pun menjodohkannya dengan seekor kuda (yang malang), yang harus membawa anggota tercantik dari Sahabat Kedondong ini (gak ada saingannya) sampai ke kawasan parkir. Dan dengan demikian, petualangan ke Puncak Bromo selesai sudah.
Sampai bertemu di petualangan gak jelas lainnya bersama Sahabat Kedondong.... ^_^
NB1:
Tulisan ini terutama ditujukan ke:
Sahabat Kedondong: thanks for everything
Dimus: jangan marah ya mus, kondisinya emang susah kan ngajak kamu..
Siapa saja yang dijanjikan ke Bromo tapi belum dipenuhi: Jangan khawatir, kita pasti ke Bromo...
NB2:
Sorry banget....cerita salju turun di Bromo cuma fiktif aja. Sebenarnya itu cuma kabut dan gerimis. Tapi karena di foto lebih mirip salju.... ya anggap aja salju, hehe....
Dan yang disebut sebagai awan belerang.... mungkin cuma kabut berbau belerang aja ^_^
(Kamis, 1 Januari 2009)
Qre datang ke kosku dan berkata, “Ayo siap-siap. Malam ini kita ke Bromo”
Dan begitulah jadinya.
Yeah, alumnus planologi (ilmu ttg perencanaan?) memang tidak perlu rencana untuk melakukan suatu hal. Karena kalo direncanakan ujung-ujungnya malah gak jadi. Ya toh?
Bahkan acara ke Bromo kali ini juga diikuti oleh Sahabat Kedondong yang lain. Ada Mel, Jak, dan Tom. Semuanya bersiap dadakan. Total jenderal, kami berlima berangkat jam 22:00 dari Malang dengan mobil carteran.
Kami sampai di kawasan parkir Bromo sekitar pukul 01.30 dini hari. Setelah acara foto-foto selamat datang dan beli-beli kupluk (tutup kepala), para Sahabat Kedondong mampir ke warung yang ada deket situ. Rencananya baru sekitar pukul 03:00 pagi nanti kami akan memulai perjalanan ke puncak Bromo-nya. Jadi ya, menghangatkan diri dulu laah...
Nah, daripada nganggur, mendingan kita tanya-tanya ke Sahabat Kedondong apa sih motivasinya ikutan naik ke Bromo kali ini?
1. Mel : “menikmati Mie Bromo yang kelezatannya tiada duanya di dunia ini!” (aslinya sih cuman mie instant biasa)

2. Jak: “Ana datang ke Jabaal Bromo ini untuk meningkatkan ilmu nuzum Ana....wesuesuesuesues...” (baca mantra)

3. Bud: “Menebarkan pesona, tentu saja....” (di gunung?????)

4. Tom: “Sebenarnya saya kemari untuk mencari penghasilan tambahan......”

Penghasilan tambahan? Maksudnya apa Tom???

5. Qre: “Kalo aku ke sini mau.......”

Mau apa???
OK, kelar menanyakan hal yang sia-sia ke Sahabat Kedondong, tidak terasa waktu sudah hampir pukul 03:00. Berarti, kami harus siap-siap naik ke puncak. Setelah acara pipis-pipis bayar Rp 2000, maka dimulailah perjalanan penuh tantangan ini....
Kondisi cuaca pada saat itu sangat tidak bersahabat. Udara sangat dingin dan kemungkinan akan turun salju. Karena kondisi sangat gelap, kami memutuskan untuk berjalan satu-per satu. Yang di belakang memegang tas/jaket/
Yang bikin be-te adalah...dini hari itu ternyata kami satu-satunya kelompok pejalan kaki! Kelompok-kelompok yang lain memilih memakai angkutan Hardtop/Jeep. Heiiiii!!!! Di mana jiwa petualang kalian????
Dan... ternyata salju benar-benar turun...


Udara jadi d i n g i n b a n g e t .
Baju hangat (seadanya) yang kami kenakan jadi basah. Dan parahnya lagi, di antara kami tidak ada yang benar-benar tahu jalan menuju Puncak Bromo.
Dengan kondisi gelap gulita dan dingin seperti saat itu, tidak ada pilihan lain bagi kami untuk berhenti dan menunggu kelompok lain.
Setelah beberapa menit menunggu, ternyata ada kelompok petualang lain yang datang. Tapi harapan tinggal harapan. Kelompok baru tadi ternyata wisatawan dari Jakarta yang tentu saja lebih tidak tahu lagi arah menuju puncak Bromo.... Pada saat-saat seperti ini, rasanya pengen balik ke Gramedia dan membeli PETA BROMO berapapun harganya...
Akhirnya diputuskan untuk menghentikan salah satu Hardtop dengan taruhan nyawa (menghadang di tengah jalan). Dan Pak Sopir pun menunjukkan arah yang harus kami tempuh. Perjalanan pun dilanjutkan. Ternyata sebenarnya jalan menuju puncak Bromo bisa ditempuh dengan mengikuti petunjuk batu-batu seukuran kepala yang disusun lurus menuju jalur ke puncak. Mungkin memang disusun untuk petunjuk arah bagi petualang gadungan seperti kami. Nah, ini tambahan ilmu yang tidak kami peroleh di bangku kuliah dulu.
Jadi pesan moralnya: Jika Anda tersesat, tidak perlu bertanya siapa-siapa. Ikutin aja BATU!
Akhirnya kami sampai di kaki tangga menuju puncak Bromo (pos 2 ?). Waktu itu mungkin sudah subuh. Yang jadi masalah adalah ternyata awan belerangnya cukup tebal, sehingga kami tidak langsung naik. Awan belerang membuat nafas kami sesak. Bau banget. 1000x bau kentutku (estimasi ngawur). Pasti batuk-batuk. Kami putuskan untuk menunggu terang, baru nanti didiskusikan lagi langkah selanjutnya.

fotonya gak fokus, soalnya yg moto kedinginan.coba perhatikan juga awan belerang yang menutupi bromo
Hari semakin terang, tapi udara tetap dingin dan awan belerang tetap datang bertubi-tubi. Bersama kami sudah banyak wisatawan lain yang bertahan di bawah tangga untuk melihat situasi. Ada juga sih wisatawan yang tetap naik walaupun awan belerangnya tebal banget. Kayaknya mereka jenis manusia yang bernafasnya enggak pake paru-paru. Mungkin pake insang.
Kami pun memilih tempat istirahat di sebuah lekukan tanah yang terbentuk akibat erosi. Lumayan enggak terlalu dingin.
Kami lalu mengeluarkan logistik untuk sekedar mengisi perut dan menghangatkan badan.
Qre mengeluarkan kompor gas portable dan mulai memasak air.
Dan u know....kompor itu meledak!
Kejadian selanjutnya (terjadi hampir bersamaan):
- Tom dengan sigapnya langsung berkata: “Padamkan!”
- Qre dengan cepatnya langsung berkata (dan berlari duluan): “Tinggalkan!”
- Jak dengan refleknya (tanpa bicara) langsung menyembunyikan kepalanya di balik tanah (sambil tetep bawa Good Time!)
- Sedangkan Mel duduk terpesona, menatap kobaran api dan enggak kemana-mana. Padahal kompor meledak itu terjadi 1 meter di depannya!
- Untung Bud dengan gentleman langsung menyelamatkan Mel dengan membopongnya!
Hahaha, boong ding. Aku cuman teriak aja. Enggak kuatlah aku mbopong Mel.
*ditinju Mel*
Memang, pada saat-saat genting, kita bisa tahu sifat asli dari teman-teman kita....
*menoleh ke Sahabat Kedondong*, hahaha........
Tapi yang aku salut (dan heran) adalah banyak wisatawan yang juga membawa anak-anak kecil. Dan mereka (termasuk anak-anak kecilnya) tidak menyerah dan mencoba bertahan dengan kondisi ini. Bahkan akhirnya mereka juga bisa mencapai puncak. Luar biasa...
Oia, yang aku lebih heran lagi, kenapa kuda-kuda yang ada di sana enggak ikutan batuk-batuk?
Hmm....misteri alam yg susah untuk dipecahkan ......
Semakin siang, tentu saja pemandangan jadi makin terang. Awan belerang pun sudah mulai menipis. Pasti aja karena sudah kebanyakan dihisap oleh wisatawan (?).
Akhirnya kami memutuskan untuk naik. Tapi sebelum itu, harus foto-foto dulu. Jak pun meminta tolong kepada salah seorang wisatawan lain:
Jak: “Mbak bisa minta tolong foto-in, nggak?”
Si Mbak: “Uh?”
Kami: “?”
Si Mbak: “Ooo...take a picture?”
Astaga....ternyata si Mbak orang Jepang. Dan jadilah kami difoto sama Mbak-mbak (manis) dari Jepang. Si Mbak yang turis asing malah kami suruh-suruh. Mudah-mudahan si Mbak enggak marah dan mengadu ke negaranya, terus negara Jepang tidak terima, terus dikirimlah tentara Jepang ke Indonesia, terus Indonesia dijajah lagi sama Jepang, terus selama 1,5 tahun kita semua menderita, terus kita proklamasi dan merdeka, terus kakekku ketemu nenekku, terus mereka jatuh cinta, terus lahirlah ayahku, terus ayahku bertemu ibuku, terus mereka menikah, terus lahir aku, terus aku kuliah di malang, terus aku ketemu sahabat kedondong, terus kami ke bromo, terus kami minta foto sama Mbak dari Jepang....lho? muter ae ternyata!
*Plak!!! Bangun!*
qre, bud, dan jak secara enggak sadar
kompak membuat simbol “V” dengan tangan. Hehe..
kompak membuat simbol “V” dengan tangan. Hehe..
Nah, akhirnya kami pun menaiki tangga ke puncak Bromo dan sempat foto-foto sebentar di puncak.
Berujung sudah perjuangan melelahkan dan penuh marabahaya (lebay) menuju puncak Bromo.....
Puas menghisap udara pegunungan yang
Karena kaki Mel ngilu, dan harus dituntun untuk berjalan, kami pun menjodohkannya dengan seekor kuda (yang malang), yang harus membawa anggota tercantik dari Sahabat Kedondong ini (gak ada saingannya) sampai ke kawasan parkir. Dan dengan demikian, petualangan ke Puncak Bromo selesai sudah.
Sampai bertemu di petualangan gak jelas lainnya bersama Sahabat Kedondong.... ^_^
NB1:
Tulisan ini terutama ditujukan ke:
Sahabat Kedondong: thanks for everything
Dimus: jangan marah ya mus, kondisinya emang susah kan ngajak kamu..
Siapa saja yang dijanjikan ke Bromo tapi belum dipenuhi: Jangan khawatir, kita pasti ke Bromo...
NB2:
Sorry banget....cerita salju turun di Bromo cuma fiktif aja. Sebenarnya itu cuma kabut dan gerimis. Tapi karena di foto lebih mirip salju.... ya anggap aja salju, hehe....
Dan yang disebut sebagai awan belerang.... mungkin cuma kabut berbau belerang aja ^_^
Label: duniaku saja









21 Comments:
gag usah rencana2an merupakan pesan moral yang bagus (dance)
@KaiToU KiD: yeah...butul-butul...kalo perlu, bubarin aja planologi!
*dikeroyok orang se-kampus*
oia, pesan moral yang: "Jika Anda tersesat, tidak perlu bertanya siapa-siapa. Ikutin aja BATU!" juga bagus kok. It's work (di bromo, engga tau di tempat lain). tolong disosialisasikan yah...
Hwaaaa....k Bromo jg yakz?! Kq g ktemu?! (ya iyalah...Q k Bromox kpn, situ kpn?!hehe)
Btw, g dingin tu cm pke clana pndek?Q j yg berjaket,bersarung tangan,bersyal dan ber-..ber-...lainnya msh ngerasa dingin,brrrr...
Oia 1 hal yg mengesankanQ, wkt d Bromo serasa d Korea2 gt dech, abizx ngomong dikit lngsung "bulll..." kluarlah uap dr mulut...haha
waa,, enk tuhh ..
gw kmren mo ksna tp gjd ikud ..
musim uja sehh,, males ikutd dahh ..
Koq naik kuda seh? Ngak malu sama nini-nini yang pada jalan kaki?
sempat nanya pada tersangkanya...
salju ???
dan diketawain.. wogh..
@Chat A: aaghhhh! pantesan dingin!!! ternyata aku pake celana pendek ya?
*goblok mode:ON*
korea? hehe...gak cuma di korea lagi...ah, ketahuan, sering nonton sinetron korea ya kamu?
@marengga: ah...nyesel kamu.....gak bisa ketemu kita2 :P
@juliach: wah, ada tamu dari luar negeri nih :) iya tuh mbak, si mel. seharusnya dia lebih malu sama si kuda. info dari yg punya, si kuda umurnya baru 4 thn. gak imbang banget khan?
@irdix: ...dan setelah itu gantian aku yg diketawain balik....
hehe, met datang ya...
wahh kerennn n menyenangkann.. weken ini aq juga mo ke bromo loh mas
waah.... akirna mas bud jdi k bromo jga pdhal sbelumna smpet blg kalo g jdi, eh... mlem2 sms diriqu kalo mo k bromo....
jdi pgen k bromo jg ni, biz blom prnah k puncak si cma dri pager luarna doank... :(
mas bud, ntar kalo mo k bromo ikutan ya.... tpi jgan pake nama angkatan & instansi donkz, kan jdi sungkan gtu,hihihihihi.....:D
thanks dah mampir ke blogku ^^
salam kenal !
jadi pengen juga ke bromo, postingnnya lucu he..he..he..
mudahan someday mitra bisa ke bromo juga :)
pakabar mas?
Waduh..
Marai aku pengen ae.. :(
Secara aku blom pernah kesana.
belum perna ke bromoooo...
pengeeeeeeeeeennnnn......
*meratap*
ujan2 ke bromo. mantabs~! :D
udah ga kebal sama dingin lagi bud. wah rugi dong bertapa di jayapura
Wiiiihhh.. enak e ke bromooo....
eh,,, lam kenall,,
blognya aku link yo... ^^
kawan, gw blogwalking dr radityadika n akhirny smp dsni. sblmnya salam super n slm kenal :) blognya asik n apik. blh qt brtukar link? makasih ya:)
hwakakka... keep konyol ya ^_^
Huy...
Lam knal y
^o^
BUD!!!!....
Poskan Komentar
Hai...yang merasa cakep, silahkan isi komentar di sini.
Links to this post:
Buat sebuah Link
<< Home